Hindari Bahasa Gado-Gado

images (2)

Siapa saja yang pernah belajar bahasa Inggris pasti merasakan betapa ketatnya aturan berbahasa mereka. Ada kata atau kalimat bentuk tunggal dan jamak. Ada pula bentuk kalimat atas dasar periode waktu. Kalimat-kalimat harus disusun dengan tata bahasa yang ketat dan mengikat. Kata kerjanya berubah sejalan dengan perubahan waktu. Kurang satu huruf “s” atau kelebihan huruf “s” pada kata kerjanya bisa menjadi perkara besar.
Mengapa aturannya ketat? Mungkin, bagi orang Inggris berkomunikasi dengan cara lisan dan tulisan adalah soal ketepatan dan keakuratan. Mereka tak ingin bahasa bisa diinterpertasikan melenceng.

Ketepatan dan keakuratan mestinya juga menjadi pedoman kita dalam berkomunikasi secara lisan dan tulisan dalam bahasa Indonesia. Sayang kita kerap abai dalam berbahasa. “Yang penting ngerti,” ucap sementara orang. Akibatnya, bahasa gado-gado pun merebak. Campuran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan entah apa lagi. Konyolnya bahasa di dalam bahasa gado-gado tersebut, bahasa Inggrisnya salah, bahasa Indonesianya amburadul.

Teman saya, Giyarno Emha, pemerhati bahasa Indonesia mencatat, banyak media yang seharusnya memberi contoh justru tak cermat dalam berbahasa.
Dalam timeline di Facebook, Giyarno berkomentar begini:

1. Lagi, kalimat berkelamin waria. Indonesia tidak, Inggris pun bukan. Sebuah program di RCTI: “Bukan Talent Biasa”. Apakah judul “Bukan Bakat Biasa” kurang gagah?
2. Ini kata yang lazim salah penulisannya di seluruh pelosok negeri: kaos. Ejaannya yang benar adalah “kaus”. Dan “kaos” berarti keadaan yang kacau-balau, bentuk nomina yang dipinjam dari kata Inggris, “chaos”. Adjektivanya “kaotis”.

Perhatikan juga, kalimat berikut memakai bentuk jamak yang mubazir
1. Semua murid-murid diharuskan mengikuti upacara bendera setiap hari Senin.
2. Untuk membangun koperasi ini, banyak persoalan-persoalan intern harus kita selesaikan dahulu.

Padahal cukup dengan mengatakan
1. Semua murid diharuskan mengikuti upacara bendera setiap hari Senin ATAU
1 a. Murid-murid diharuskan mengikuti upacara bendera setiap hari Senin.
Sedangkan untuk kalimat nomor dua diubah menjadi:
2. Untuk membangun koperasi ini, banyak persoalan intern harus kita selesaikan dahulu ATAU
2a. Untuk membangun koperasi ini, persoalan-persoalan intern harus kita selesaikan dulu.

Berkaca dari beberapa contoh di atas, sudah selayaknya kita cermat dalam berbahasa. Jangan asal tabrak dan bilang yang penting ngerti.

Advertisements

3 Tabu Media Cetak vs 3 Kekhasan Media Digital

Di tengah banjir informasi di media digital maupun di media sosial muncul keluhan sebagian orang, soal kurangnya kedalaman berita. Banyak berita hanya menyentuh permukaan. Memberitakan yang tersurat bukan yang tersirat.

Fakta di atas lantas dianggap sebagai ciri pertama media digital, yakni – cuma menyuguhkan apa – kapan – dan dimana pada berita yang diunggah. Aspek mengapanya, apalagi bagaimana terlewatkan.

Coba simak berita di media digital. Ketika Rizal Ramli mengatakan: “Mereka yang menghambat akan saya kepret,”, sepenggal kalimat tersebut langsung menjadi top news menghiasi berita di media-media online dalam hitungan jam. Agar tidak terlalu pendek redaksi menambahkan berita tersebut dengan cerita tentang langkah-langkah dan komentar yang memang kontroversial sejak jadi aktivis.

Ciri kedua berita di media digital adalah pengulangan. Satu berita baru digabung dengan berita lama. Berita baru ini porsinya jauh lebih sedikit dengan berita lama. Berita lama diunggah kembali untuk mengingatkan kembali atas kejadian atau peristiwa. Ketika pelaku pembunuhan atas seorang tukang parkir tertangkap di sebuah mal, maka berita tersebut diunggah ditambah dengan berita lengkap sebelumnya bahwa ada seorang tukang parkir terbunuh di sebuah pusat perbelanjaan.

Ciri ke tiga media digital adalah tingginya frekuensi menguggah artikel atau berita. Satu isu hangat, pernyataan yang dianggap menohok, Kapolri yang tampak tergesa-gesa berjalan ke istana, sudah bisa diangkat sebagai topik yang seksi.

Kalau ditelisik media digital memang menampilkan karakter yang berseberangan dengan media mainstream (media cetak). Kecepatan menjadi motor utama di media digital. Prinsipnya, ketimbang keduluan, unggah dulu. Kalau kurang lengkap bisa ditambah di berita berikutnya.

Barangkali apa yang dilakukan untuk memuaskan pembaca digital media yang ingin serba cepat dengan men-scanning judul yang menohok. Lantaran mengedepankan kecepatan, konon awak redaksi media digital diwajibkan merampungkan 30 tulisan per harinya.

Apalagi ada anggapan, kurangnya update atas sebuah situs membuat sebuah situs tersebut ditinggalkan pembacanya. Bahkan, situs ini terancam dijauhi mesin pencarian. Search Engine Optimazion (SEO) mensyaratkan situs sehat adalah situs yang kerap di update. Jadi kalau Anda punya situs, dengan akhiran com, wordpress, blogspot atau yang lain sering-seringlah di update. Karena membuka peluang situs Anda terpampang di papan atas situs pencarian. Semakin situs Anda berada di nomor-nomor awal, tentu memperbesar kemungkinan situs Anda di klik. Selain itu situs Anda juga mesti punya materi orisinil (hindari copy paste tulisan orang), dan mesti memakai tata bahasa yang baik.

Temukan sudut pandang
Tiga ciri yang ada di media digital tersebut ditabukan di media cetak. Di print media ini, berita tak hanya mengabarkan apa, kapan, dan dimana, tapi wajib menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana. Sebuah berita tidak tampil telanjang, tapi diberi konteks dan sudut pandang. Dalam kasus Gayus Tambunan yang kedapatan makan siang di sebuah resto di Jakarta Selatan, media cetak mesti menemukan sudut pandang. Misalnya: Kenapa bisa Si Gayus yang pernah raib hingga Bali, kembali kabur meski “hanya” makan siang? Siapa yang harus bertanggungjawab? (Penulis menelisik oknum yang memberi izin keluar penjara dan petugas yang memberi keleluasaan Gayus makan siang). Atau sudut pandang lain. Mengapa Gayus bisa leluasa makan siang di luar penjara? (Penulis harus menemukan motif Gayus dan petugas yang meloloskannya).

Tabu kedua di media cetak adalah pengulangan. Berita yang sudah pernah terbit, tidak akan dimunculkan lagi karena dianggap basi. Mengulang berita dianggap tidak etis dan membodohi pembaca. Pengulangan mencerminkan ketidaksigapan wartawan dalam menelisik berita. Media cetak yang kerap mengulang berita dianggap tidak kredibel. Memang untuk berita-berita yang masih berhubungan kadang ada sedikit pengulangan. Tapi sifatnya hanya mengingatkan dan itu biasanya ditempatkan pada bagian akhir sebuah berita. Ketika pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi September II, maka berita tersebut muncul sebagai berita yang cukup panjang, lengkap dengan rinciannya. Di akhir berita tersebut diingatkan bahwa pemerintah sebelumnya juga telah melansir Paket Ekonomi September I.

Ciri ketiga media cetak adalah kemunculan berita didasarkan atas periode terbit. Harian, Mingguan, Bulanan, dsb. Karena periode terbit yang relatif lebih panjang dibandingkan dengan media digital, maka wartawan harus menggali berita lebih dalam dan lengkap. Dalam berarti berita tersebut harus menukik jauh menembus permukaan untuk menemukan apa yang tersirat. Ketika bencana asap menutupi sebagian Kalimantan dan Sumatera, wartawan yang tekun harus mencari tahu, bagaimana hal itu terjadi dan mengapa muncul setiap tahun?

Sedangkan kelengkapan berhubungan dengan keberagaman aspek yang dikupas. Misalnya dalam soal bencana asap tersebut: berapa luas yang terkena dampak, berapa banyak yang terkena gangguan kesehatan, berapa anak sekolah yang diliburkan, berapa frekuensi penerbangan yang tertunda, berapa kerugian materiil yang bisa dihitung. Sebuah berita diberi konteks agar pembaca bisa melihat utuh atas sebuah permasalahan. Dengan demikian pembaca merasa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.

Dengan melihat pembedaan tersebut, sebenarnya media digital dan cetak bisa saling belajar untuk menambal kelemahannya. Media digital belajar dari media cetak soal kedalaman, kelengkapan, dan keakuratan. Sementara media cetak belajar dari media digital ikhwal kecepatan.
Happy Writing!

Beri Kutipan – Agar Tulisan Tidak Monoton

Saking pentingnya kutipan, para jurnalis bahkan menjuluki kutipan sebagai senjata dalam menulis. Kutipan, berupa pernyataan, terutama  orang  yang  punya wewenang  atas topik yang dipilih bakal “menghidupkan” tulisan. Tulisan menjadi tidak monoton, kering, dan searah. Membuat pembaca bangun dari tidur.

Kutipan muncul sebagai penegasan. Ia seperti menghadirkan pihak yang  dipercaya untuk memberi penjelasan pada pembaca. Atas alasan tersebut memilih dan menempatkan kutipan secara tepat ke dalam tulisan menjadi penting.

Kutipan yang terlalu panjang membuat hambar.  Contoh: Soal modal awal usaha ini, baik Rudi maupun Iwan tak ingat berapa jumlahnya, karena menurut mereka prosesnya bertahap. Selain itu bentuk investasi awalnya, tidak semua dalam bentuk cash, melainkan banyak yang bayar tempo. “Maksudnya kita pakai dulu material dari supplier dengan bayar belakang. Dan waktu itu kami mengalir begitu saja karena senang, sehingga kalkulasi modal awal tidak sempat kami pikir, yang penting jalan gitu,” lanjut Iwan. (Idebisnis, Maret 2013)

Sebaliknya kutipan singkat, tapi menohok memunculkan kejutan yang membikin pembaca terpana.  Contoh: Sehari setelah Luis Suarez menggigit bahu pemain bek Italia, Giorgio Chiellini, di Piala Dunia 2014, perusahaan rumah judi online Paddy Power bereaksi jenaka. Mereka memasang papan iklan besar di Lambeth, London, bergambar foto Suarez tengah tersenyum. Tak ada yang aneh dengan foto itu, kecuali deretan gigi Suaresz yang dihitamkan. “Siapa yang akan menjadi korban gigitan Suarez berikutnya?” demikian bunyi banner-nya. (Tempo, 13/7/2014)

Untuk mendapatkan kutipan yang “bunyi” penulis mesti pandai menyimak semua informasi dari narasumber, baik  tertulis maupun  terkatakan. Pilih, mana yang kemudian bisa dijadikan kutipan. Dan di mana menempatkannya.

Dalam memilih kutipan, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pedoman:

  1. Kutipan langsung harus berupa pernyataan yang kuat merujuk pada topik yang tengah dibahas. Bahkan kalau mungkin berupa pernyataan yang kontroversial. Sebagai contoh, pernyataan “BPJS haram,” oleh Majelis Ulama Indonesia akan sangat menarik perhatian pembaca, lepas bahwa hal tersebut penuh dengan kontroversi.
  2. Pernyataan unik bisa dijadikan kutipan langsung. “Aku rapopo, aku rapopo, he-he-he”, kata Jokowi, di Balaikota Jakarta, Senin (24/3/2014) yang dalam bahasa Jawa artinya “Aku tidak apa-apa”. Adalah kata yang dilontarkan Jokowi saat diminta komentar tentang banyaknya serangan terhadapnya dalam beberapa pekan terakhir.
  3. Pernyataan tentang sebuah fakta yang tidak umum, bisa juga dijadikan bahan tulisan. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Tri Siswo Rahardjo mengatakan jumlah macan tutul yang teramati sepanjang 2013, misalnya, tercatat 16 individu. “Pengamatan sampai pertengahan tahun ini jumlahnya 18 ekor,” katanya di kantornya, Rabu pekan lalu. (Tempo, 13/7/2014)

Ada pertanyaan yang sering terlontar. Apakah penulis harus mengutip pernyataan apa adanya atau boleh mengedit asalkan tidak mengubah esensinya? Menurut hemat saya, pernyataan pihak berwenang atau  public figure harus dikutip apa adanya, untuk menghindari salah persepsi. Bahkan penulis harus punya bukti rekaman asli sebagai rujukan jika sewaktu-waktu ada tuntutan. Sedangkan untuk kutipan yang bersumber dari masyarakat biasa  untuk melengkapi tulisan yang “ringan”, kutipan bisa saja disesuaikan dengan gaya penulisan asalkan tidak mengubah esensi.

Happy Writing!

Mengapa Tulisan Perlu Diedit?

Pekerjaan sebagai editor kerap dianggap menyenangkan. Memeriksa tulisan orang, memperbaikinya, dan menerbitkan. Beres! Padahal acap terjadi, editor justru “dimusuhi” oleh penulis yang tak berkenan tulisannya diperbaiki. Ia bilang tulisannya justru kehilangan makna, lantaran editor menghapus kata atau kalimat yang penting. Benarkah begitu?

Pengalaman menunjukkan, tulisan yang masuk ke meja editor punya tingkat kesalahan yang bervariasi. Mulai dari yang ringan sampai yang berat. Tentu yang diharapkan adalah press claar – runtut, logis, dan minus kesalahan kalimat, kata, ataupun huruf. Sedangkan tulisan tidak logis dan mengandung kesalahan ejaan atau kata, wajib dipermak. Diantara dua ekstrem itu ada tulisan dengan tingkat kesalahan sedang.

Meski mengandung kesalahan dan ketidakcermatan, penulis kadang tidak sadar dan menganggap tulisannya sempurna adanya. Mungkin karena ia diburu waktu dan fokus pada isi tulisan. Ibarat juru masak yang menganggap masakannya paling yummy. Padahal yang menentukan enak tidaknya adalah orang lain atau konsumen. Dalam hal ini, editor berperan sebagai konsumen, sehingga lebih obyektif.

Lalu bagaimana dengan penulis yang mem-publish tulisannya sendiri. Ya, dia sendiri bertindak sebagi editor. Setelah tulisan selesai, dia kemudian memeriksa lagi dengan cermat. Kali ini, dia menempatkan diri sebagai editor.

Lalu apa yang dilakukan seorang editor:

1. Memeriksa apakah alur cerita, logis dan masuk akal. Tidak ada lompatan pemikiran dari satu kalimat ke kalimat lain. Dari paragraf pertama ke paragraf berikutnya.

2.  Apakah tidak ada kesalahan ejaan, istilah, huruf, data, angka, nama, alamat, dsb. Dimata pembaca, kesalahan tersebut akan menurunkan kepercayaan pada penulis. Logikanya, kalau menuliskan istilah saja salah, bagaimana pembaca bisa percaya pada isi tulisan.

3. Apakah tulisan tersebut tidak menyinggung agama, suku, keturunan, golongan tertentu. Di negeri kita hal tersebut sangat sensitif, hingga editor harus waspada, apakah sebuah kalimat secara tersurat dan tersirat menyinggung kelompok tertentu. Jika ragu hilangkan saja.

4. Apakah gagasan disampaikan dengan bahasa yang lugas langsung ke pokok persoalan. Harus diakui bahasa tulis sering terbawa dari bahasa lisan yang bertele-tele. Kita suka sekali berpanjang kata yang dikira lebih efektif, padahal tidak. Misalnya di jalan tol, sering ada tulisan Hindari Tabrak Belakang – Jaga Jarak. Padahal dengan mengatakan Jaga Jarak, akan lebih efektif. Di banyak negara, cukup dengan Keep Distance. Bukankah Jaga Jarak untuk menghindari tabrak belakang. Apalagi kalimat perintah mestinya singkat dan tegas. Atau Lajur Kanan Hanya Untuk Mendahului. Wuih, panjang amat. Bukanlah lebih efektif Gunakan Lajur Kiri. Bahkan di luar jalan-jalan di luar negeri konsisten dengan Keep Left!

5. Menulis adalah menuangkan ide, gagasan, perasaan dalam sebuah kalimat. Kadang pada saat tulisan telah selesai, penulis baru sadar, ada ide atau gagasan baru yang perlu ditambahkan. Dalam proses editing, ide yang baru terpikir tersebut bisa dimasukkan.

6. Tidak ada tulisan sekali jadi. Tulisan yang baik, lahir dari proses panjang. Mulai dari gagasan, pengumpulan bahan, permenungan, penulisan, dan pengeditan yang tekun. Ada satu prinsip jurnalisme yang bisa dijadikan pegangan: Kalau Anda menulis dengan mudah maka pembaca akan mendapat kesulitan, namun jika Anda menulis dengan susah maka pembaca akan mendapat kemudahan.

Happy Writing!

Apa Itu News Analysis?

Belum lama seorang teman meminta saya membuat tulisan news analysis. Sempat tertegun sesaat, soalnya jenis tulisan ini terbilang jarang saya tulis. Biasanya berbentuk feature, profil, atau tulisan informasi. Dari buku jurnalistik yang saya baca, pengerjaan  news analysis punya tingkat kesulitan tinggi. Penulis harus sudah piawai mengerjakan jenis tulisan informasi, profil, dan feature.

Bila diperhatikan, tulisan jenis ini berisi 2 hal: news dan analysis. Gampangnya, adalah berita yang kemudian dianalisis. Dijelaskan, didudukkan perkaranya, agar mudah dipahami. Soalnya kerap terjadi,  khususnya berita keras, yang muncul hanyalah berita menggelegar. Tanpa penjelasan  memadai. Sehingga pembaca kerap bertanya, kenapa hal itu terjadi? Bagaimana bisa? Mekanisme seperti apa? Bagaimana dampaknya?

Nah, dalam news analysis, penulis berusaha menjelaskan lebih detail dampak berita tersebut pada masyarakat. Tujuannya agar mereka  bisa mencerna berita tersebut secara perlahan dan menerima penjelasan tersebut tanpa bias.

Agar bisa membuat news analysis dengan baik, penulis mesti memahami seluruh konteks isi berita. Ia harus menggali informasi lebih dalam dan kemudian melakukan analisis dengan kepala dingin sebelum menyuguhkannya pada pembaca.

Contoh:

Tumpangsari  – Langkah Lunak Mengatasi Penebangan Liar

Dalam berbagai pemberitaan di media massa, sepuluh tahun belakangan, pembalakan liar di kawasan hutan kerap muncul sebagai berita utama. Kabar tersebut berhembus kencang hingga  ke luar negeri dimana produk kayu Indonesia dipasarkan. Negara Uni Eropa yang terkenal dengan regulasi soal perdagangan kayu bereaksi keras. Mereka mengecam dan tak segan melarang perdagangan kayu hasil penebangan liar.

Itulah sebabnya pemerintah secara serius  akan melakukan Pemberantasan Tindakan Penebangan Liar sebagai sebuah aksi nyata seperti tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Selain langkah hukum yang keras kepada pihak-pihak yang secara sengaja melakukan illegal logging, pemerintah juga menjajal cara yang lebih soft. Yakni peningkatan efektivitas dan kualitas pengelolaan hutan melalui  keterlibatan masyarakat dalam pengamanan hutan melalui kemitraan, termasuk pengembangan hutan adat.

Salah satu langkah yang telah diambil Presiden Jokowi pengelolaan hutan dengan melibatkan masyarakat tersebut adalah melalui lahan-lahan Perum Perhutani (BUMN yang mengelola lahan hutan di P. Jawa). Intinya lahan tersebut ingin dioptimalisasi  dengan cara tumpangsari dengan padi dan jagung. “Pesan Bapak Presiden, beliau mengatakan saya dari kecil sampai tua lihat desa-desa di dekat hutan Perhutani miskin, saya enggak mau lihat begitu lagi,” ungkap Siti Nurbaya, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Dalam pelaksanaannya, Perhutani akan menyediakan 100.000 hektar lahan untuk tanaman padi, dan 167.000 hektar lahan untuk tanaman jagung. Penyediaan lahan itu diproyeksikan untuk satu tahun dan dimulai pada 2016.

Penggarapan lahan-lahan itu dipastikan akan melibatkan masyarakat di sekitar sejalan dengan upaya memperbaiki taraf ekonomi masyarakat setempat.

Program tumpangsari di kawasan hutan secara teknis adalah langkah yang cerdas. Padi dan jagung akan ditanam disela-sela  tanaman hutan, terutama pada tanaman yang telah berusia di atas 10 tahun. Pada umur tersebut tanaman sudah besar dan cukup kuat. Selain itu pada umur tersebut  jarak antartanaman juga semakin melebar. Nah, ruang yang tercipta inilah yang  kemudian bisa dimanfaatkan untuk tumpangsari padi dan jagung.

Itulah sebabnya, tumpangsari sebenarnya optimalisasi ruang dengan memanfaatkan tenaga matahari dalam melakukan fotosintesa tanpa harus mengganggu tanaman utama. Bahkan semakin besar sebuah pohon, maka semakin lebar jarak yang diciptakan. Karena jumlah pohon harus selalu dikurangi agar kanopi antarpohon tidak bersentuhan untuk menciptakan pertumbuhan optimal.

Tumpangsari memprioritaskan masyarakat sekitar hutan sebagai pengelola lahan. Dengan memberi lahan untuk bertanam dan subsidi pupuk, petani mempunyai tambahan pendapatan dari hasil panen padi atau palawija. Mereka tidak lagi mencuri kayu. Bahkan mereka  bisa diminta untuk menjaga hutan sebagai bentuk kompensasi dari pemberian lahan.

Satu hal yang perlu perhatian adalah menjaga tanaman tumpangsari tersebut tidak terlalu dekat dengan tanaman utama. Agar tidak terjadi perebutan nutrisi. Hal lain yang butuh perhatian adalah pemilihan varietas tanaman, terutama padi. Agar bisa bertahan  hidup di lahan Perhutani yang dikenal minim pasokan air. Waktu tanam menjadi faktor yang menentukan. Perlu perhitungan tepat sehingga petani bisa memanfaatkan datangnya musim hujan agar hasil produksi bisa dimaksimalkan.

Dalam jangka panjang, jenis tanaman tumpangsari bisa diperluas. Misalnya dengan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman obat. Berbeda dengan tanaman hortikultura, tanaman obat umumnya berupa tanaman liar. Alhasil tidak dibutuhkan syarat tumbuh yang ketat seperti halnya padi dan jagung.

Tanaman obat juga punya nilai ekonomis yang tinggi. Tinggal kemampuan kita untuk memilih, tanaman yang bisa optimal di lahan miskin hara, kurang air, dan bertahan di daerah panas.

Begitulah  gambaran  pendekatan partisipatif lewat tumpangsari yang diyakini bisa mengurangi penebangan hutan secara liar. Sebuah langkah yang patut diapresiasi.

Senjata Menulis Itu Bernama Paradoks

Berita apa yang belakangan menyedot perhatian publik? Apakah sepasang suami istri yang menelantarkan 5 orang anak di Perumahan Citra Gran Cibubur. Atau Darwati, 23 tahun, pembantu rumah tangga asal Kabupaten Grobogan, yang mampu meraih gelar sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tujuh Belas Agustus, di Semarang.

Apa yang sebenarnya menarik dari dua berita tersebut: kebaruan, aktualitas, atau kontradiksi.

Benar! Berita tersebut sarat dengan kontras atau paradoks. Pada berita pertama, bagaimana mungkin, suami istri yang berkecukupan dan berpendidikan tinggi, tinggal di lingkungan berada ditambah  keberadaan 2 mobil cukup mewah bisa-bisanya menelantarkan kelima anaknya. Mengasuh secara tidak layak dan membiarkan anaknya berkeliaran di luar rumah tanpa sekolah.

Paradoks itulah yang membuat sebuah tulisan tersebut membetot keingintahuan pembaca. Bandingkan dengan seorang ibu yang bekerja serabutan, tinggal di rumah reyot dan menelantarkan  kelima anaknya. Maka pembaca akan berguman. Itu mah bukan berita. Biasa!

Pada berita kedua, unsur paradok muncul dalam sosok Darwati, pembantu rumah tangga yang berhasil menyabet gelar sarjana. Kalau kita baca berita tersebut, kita akan kagum bagaimana Darwati menyisihkan waktunya untuk belajar setelah jam 9 malam. Terlebih, dia tidak asal lulus, tapi lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.

Dalam sebuah tulisan, paradok membuat pikiran pembaca penasaran. Bagaimana mungkin itu terjadi? Jawaban atas pertanyaan itu ditunggu hingga akhir cerita.

Tulisan dengan pendekatan paradoks banyak ditemui dalam artikel bisnis. Sukses Dengan Modal Dengkul; Berjaya Usai Ditipu Rekan Bisnis; Dulu Gerai di Emperan Sekarang di Gedongan adalah contoh-contoh judul yang mengedepankan kontras.

Pendekatan paradoks pun bisa dipakai untuk tulisan lainnya. Kuncinya Anda harus menemukan kontradiksi atas topik yang Anda pilih. Misalnya, seorang guru piano hebat yang tidak punya piano di rumahnya. Atau pekebun durian sukses dengan lahan puluhan hektar, yang ternyata berlatarbelakang pendidikan teknik sipil. Kok bisa?

Happy Writing!

Tulisan Ringkas Adalah Kecerdikan

Seperti seorang jago masak, penulis yang baik tidak muncul tiba-tiba. Penulis kadang membutuhkan waktu berjam-jam di atas meja melakukan pemilahan bahan, menyusun kata dan kalimat, dan mengklarifikasi fakta untuk menghasilkan tulisan yang bermutu. Itu semua demi menghasilkan tulisan yang akurat dan dapat dipercaya.

Menulis pada dasarnya adalah mengkomunikasikan pikiran, ide, perasaan, dan fakta pada pembacanya. Semakin runtut alurnya, semakin lengkap bahannya, dan semakin enak cara penyampaiannya, pembaca akan semakin mengapresiasi. Shakespeare pernah bilang Brevity is the soul of wit terjemahan bebasnya kira-kira berbunyi Tulisan ringkas adalah sebuah kecerdikan. Sayangnya, tak mudah membuat tulisan ringkas. Butuh banyak latihan tanpa harus menghilangkan detail.

Detail pada dasarnya adalah daya tarik tulisan. Hilangnya detail membuat pembaca frustrasi atau terlukai. Agar detail tidak terlewatkan, jangan pernah menganggap pembaca tahu atas apapun yang Anda tulis. Jadi ringkas bukan berarti mengesampingkan kejelasan. Karena kejelasan merupakan inti dari sebuah tulisan. Keringkasan bersama dengan ketelitian dan kejelasan merupakan pilar dari  sebuah tulisan yang efektif.

Lantas bagaimana dengan gaya penyampaian? Tulislah dengan bahasa sederhana. Sampaikan selayaknya Anda berbicara. Sekali lagi, ini mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan. Seperti kata esaiis Inggris, William Hazlitt, 150 tahun lalu It is not easy to write with a familiar style.

Jagalah agar tulisan Anda selalu “hidup”. Caranya, pakai kalimat aktif dan memilih kata yang tepat. Singkirkan kalimat pasif, buang kata yang tidak perlu dan kata yang bermakna ganda.

Kurang baik: Permohonan  grasi pada narapidana hukuman mati tidak dikabulkan oleh presiden.

Lebih baik: Presiden menolak grasi terpidana mati.

Kurang baik: Memilih sekolah tidak bisa asal-asalan, karena menyangkut kesuksesan anak di masa yang akan datang.

Lebih baik: Jangan asal memilih sekolah karena bisa menggagalkan masa depan anak.

Semakin sering Anda menulis, Anda akan semakin terampil mengungkap gagasan.

Happy Writing!